Film karya sutradara Indonesia nampaknya sudah merajai studio film di kota-kota. mulai dari karya bermutu hingga menghilangkan selera nonton publik terhadap karya film tersebut. Horor-mistik menjadi tema film Indonesia yang boming saaat ini. segala macam rupa hantu disuguhkan pada masyarakat yang nampaknya ikut tergiur dengan adegan-adegan yang menegangkan. “TIREN” merupakan salah satu film horor yang sedang tayang saat ini di studio-studio bioskop kesayangan anda. Sepintas judul dan gambar dalam poster-nya menarik perhatian sejumlah orang, salah satunya adalah saya dan teman-teman. Tak dinaya, adegan tiap adegan dalam film itu jauh dari prinsip dasar film layak tonton segala usia. Temanya pun jauh melenceng. Seperti; -Judul: TIREN alias mati kemarin tak menunjukkan bahwa film tersebut adalah bertemakan orang yang mati kemaren yang gentayangan dengan sebab  yang tidak jelas.

-Poster: dalam poster terpampang gambar adegan seseorang sedang memandikan mayat yang tergeletak di atas pelepah pisang. Namun ditunggu-tunggu adegan itu tak muncul sekelibat pun.

-Unsur porno: tema horor tidak lagi melekat dalam alur cerita. bahkan adegan syur tak ber-attitude disajikan blak-blakan. Pilihan gambarnya tal mewakili sebuah cerita horor. Justru diperkuat pada adegan mandi, bercumbu, pipis, kemulusan paha artis.

Film ini hanya diperkuat oleh sound yang memekak tiba-tiba, sehingga penonton pun terkaget-kaget. BUKAN karena adegan horor yang memikat.

Terkadang memang karya film saat ini tak bisa dipertanggungjawabkan, asal jadi dan berprofit. Tak lagi ada pertimbangan kualitas film dari segi alur cerita, gambar, atau bahkan talent. Film TIREN inipun tak jauh beda dari film-film horor sebelumnya, seperti ‘terowongan casablanca’, ‘pulau hantu’, ‘malam jumat kliwon’, dan beragam jenis hantu lainnya. Beginilah mungkin gambaran kekreatifitasan seorang sutradara dalam meracik sebuah ide cerita kedalam kemasan audio visual.  Bagaimana kita bisa menerima karya itu dengan baik jika tidak sesuai dengan aturan atau konsep yang sesuai, yang terkadang si sutradara menyajikannya begitu saja tanpa konsep yang matang dan kadang tak memuaskan.
(( source: http://syscakosmik.wordpress.com/page/2/ ))